TUGAS PKPD BENCANA
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kami dari kelompok 7 dari kelas BC21.4, atas nama:
1. Rizka
2. Novita Ahriani
3. Nur Alfiana
4. Dian Safhira As.
Pada kesempatan kali, kami akan memaparkan suatu materi tentang jenis bencana dan cara penanggulangannya. Pertama-tama kita akan membahas masalah bencana dari pembahasan jurnal Nasional. Langsung saja kita ke kasus bencana pertama yaitu:
PENDEKATAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BANJIR
Banjir adalah proses alam yang dapat menjadi bencana ketika dataran banjir dan daerah tangkapan air ditempati dan dibangun oleh manusia. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, pengelolaan sumber daya alam telah berubah dan menimbulkan risiko banjir.
Penyebab Banjir
Berdasarkan pengamatan, bahwa banjir disebabkan oleh dua katagori yaitu banjir akibat alami dan banjir akibat aktivitas manusia.
1. Penyebab Banjir Secara Alami
a. Curah Hujan
Oleh karena beriklim tropis, Indonesia mempunyai dua musim sepanjang tahun, yakni musim penghujan umumnya terjadi antara bulan Oktober–Maret dan musim kemarau terjadi antara bulan April-September. Pada musim hujan, curah hujan yang tinggi berakibat banjir di sungai dan bila melebihi tebing sungai maka akan Timbul banjir atau genangan.
b. Pengaruh Fisiografi
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan daerah aliran sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang seperti lebar, kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai), lokasi sungai dan lain-lain merupakan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya banjir.
2. Penyebab Banjir Akibat Aktifitas Manusia
a. Perubahan kondisi DAS
Perubahan kondisi DAS seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan tataguna lainnya dapat memperburuk masalah banjir karena meningkatnya aliran banjir. Dari persamaan-persamaan yang ada, perubahan tata guna lahan berkontribusi besar terhadap naiknya kuantitas dan kualitas banjir.
b. Kawasan kumuh dan Sampah
Perumahan kumuh (slum) di sepanjang bantaran sungai dapat menjadi penghambat aliran. Masalah kawasan kumuh ini menjadi faktor penting terjadinya banjir di daerah perkotaan.
Disiplin masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang ditentukan masih kurang baik dan banyak melanggar dengan membuang sampah langsung ke alur sungai, hal ini biasa dijumpai di kota-kota besar. Sehingga dapat meninggikan muka air banjir disebabkan karena aliran air terhalang.
Dampak yang Muncul
Akibat bencana banjir, bangunan-bangunan akan rusak atau hancur yang disebabkan oleh daya terjang air banjir, terseret arus, daya kikis genangan air, longsornya tanah di seputar/di bawah pondasi, tertabrak/terkikis oleh benturan dengan benda-benda berat yang terseret arus, lihat Gambar 3. Kerugian fisik cenderung lebih besar bila letak bangunan di lembah-lembah pegunungan dibanding di dataran rendah terbuka. Banjir dadakan akan menghantam apa saja yang dilaluinya.
Pengendalian Bahaya Banjir
1. Perbaikan Saluran dan Perlindungan Vegetasi
Dasar sungai yang sudah dangkal/ tersedimentasi akibat pengendapan harus dikeruk, diperdalam sementara untuk batas tebing/tanggul sungai di kanan–kirinya harus pula diperlebar.
2. Konstruksi Bendungan/Tanggul yang Aman
Bendungan adalah suatu konstruksi untuk membuat waduk (storage) yang mampu menyimpan cadangan air limpasan sekaligus melepasnya dengan tingkat yang masih bisa dikelola. Pembangunannya harus memperhatikan patokan tertinggi permukaan air sewaktu banjir sehingga elevasi puncak / mercu bendungan atau tanggul berada di atas angka keamanan.
3. Partisipasi Aktif Masyarakat.
Peranserta masyarakat diperlukan dalam minimasi bencana banjir. Oleh karena itu diperlukan beberapa pendekatan, antara lain:
1). Peringatan bahaya banjir disebarkan di tingkat desa/kalurahan,
2). Kerja bakti untuk memperbaiki dasar dan tebing sungai, membersihkan kotoran yang menyumbat saluran air, membangun tanggul dengan karung-karung pasir atau bebatuan, menanami bantaran sungai (penghijauan)
3). Rencana pemulihan pertanian pasca-banjir, antar lain dengan menyimpan benih dan persediaan lain di tempat yang paling aman dan ini dijadikan tradisi,
4). Perencanaan pasokan air bersih dan pangan seandainya bencana memaksa pengungsian.
KASUS KEDUA
TSUNAMI
Gangguan ini membentuk gelombang yang menyebar ke segala arah dengan kecepatan gelombang mencapai 600–900 km/jam. Awalnya gelombang tersebut memiliki amplitudo kecil (umumnya 30–60 cm) sehingga tidak terasa di laut lepas, tetapi amplitudonya membesar saat mendekati pantai. Saat mencapai pantai, tsunami kadang menghantam daratan berupa dinding air raksasa (terutama pada tsunami tsunami besar), tetapi bentuk yang lebih umum adalah naiknya permukaan air secara tiba-tiba. Kenaikan permukaan air dapat mencapai 15–30 meter, menyebabkan banjir dengan kecepatan arus hingga 90 km/jam, menjangkau beberapa kilometer dari pantai, dan menyebabkan kerusakan dan korban jiwa yang besar.
PEMICU
Tsunami dapat dipicu oleh gangguan pada dasar laut yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air. Dalam proses kembalinya air yang terganggu ini menuju ekuilibrium atau keadaan tenang, suatu gelombang dapat terbentuk dan menyebar meninggalkan pusat gangguan, sehingga menyebabkan tsunami. Peristiwa-peristiwa yang dapat menyebabkan perpindahan air seperti ini meliputi gempa bumi bawah laut, longsor yang terjadi di dasar laut, jatuhnya benda ke dalam air seperti letusan gunung, meteor, atau ledakan senjata.[
Pemicu paling umum adalah gempa bumi yang mengakibatkan sekitar 80%–90% dari seluruh tsunami. Gempa yang paling berpotensi menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi pada zona penunjaman (daerah pertemuan dua lempeng yang membenamkan salah satu lempeng tersebut) yang dangkal. Namun, tidak semua gempa seperti ini menyebabkan tsunami. Biasanya, hanya gempa berkekuatan di atas 7,0 skala magnitudo momen yang memiliki potensi ini. Semakin kuat suatu gempa, semakin besar pula peluang tsunami yang disebabkan oleh gempa tersebut. Selain paling umum, tsunami seperti ini adalah satu-satunya yang dapat bertahan jauh (termasuk menyeberangi samudra) sehingga membahayakan daerah yang lebih luas. Tsunami Samudra Hindia 2004 merupakan contoh tsunami seperti ini, dipicu oleh gempa bermagnitudo 9,1 dan merupakan tsunami paling mematikan dalam sejarah.
Penyebab tsunami lainnya adalah aktivitas vulkanik, terutama dari gunung berapi yang berada di dekat atau di bawah laut. Umumnya, aktivitas vulkanik menyebabkan naik atau turunnya bibir gunung berapi, memicu tsunami yang mirip dengan tsunami gempa bumi bawah laut. Namun, dapat juga terjadi letusan besar yang menghancurkan pulau gunung berapi di tengah laut, menyebabkan air bergerak mengisi wilayah pulau tersebut dan memulai gelombang besar. Contoh tsunami akibat letusan besar seperti ini adalah tsunami letusan Krakatau 1883, yang mengakibatkan tsunami setinggi lebih dari 40 m.
Selain penyebab-penyebab di atas, ada penyebab tsunami yang lebih langka, di antaranya benturan benda besar ke dalam air akibat ledakan senjata atau kejatuhan meteor. Benturan ini memicu gelombang air, dan tsunami yang dihasilkannya memiliki karakteristik fisika yang mirip dengan tsunami letusan gunung berapi.
PENANGGULANGAN
Sistem peringatan dini
Sistem peringatan dini tsunami berfungsi untuk mendeteksi risiko tsunami, memperkirakan daerah-daerah yang akan terkena, dan mengeluarkan pengumuman agar publik dapat mengambil tindakan untuk mengurangi korban jiwa dan kerusakan. Peringatan dini tsunami biasanya berawal dari terjadinya gempa berkekuatan besar (magnitudo 7,0 atau lebih). Saat gempa seperti ini terjadi, penduduk daerah terdekat dapat langsung diberi peringatan dini disertai perkiraan kasar ukuran atau waktu kedatangan tsunami.
Rancangan tahan tsunami
Dengan kecepatan tinggi dan hanyutnya benda-benda yang berat, arus tsunami memiliki energi tinggi yang dapat menghancurkan atau merusak bangunan-bangunan di daerah pesisir. Namun, berdasarkan pengamatan, bangunan-bangunan dengan rancangan tertentu memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Bangunan dengan ruangan terbuka yang luas, yang bisa dilewati oleh air tanpa banyak benturan sering mampu bertahan saat diterjang tsunami. Contohnya adalah rumah-rumah panggung di Hawaii (air bisa mengalir antara lantai dan tanah), dan masjid-masjid besar di Aceh (yang umum memiliki ruangan luas terbuka). Struktur beton bertulang juga sering tidak hancur dalam tsunami, walaupun tembok-tembok bangunannya dapat hancur.
KASUS KETIGA
FAKTOR-FAKTOR KERENTANAN YANG BERPENGARUH TERHADAP BENCANA BANJIR DI KECAMATAN MANGGALA KOTA MAKASSAR
Banjir yang terjadi di Kecamatan Manggala berdampak negatif kepada masyarakat baik berupa kerugian materi, maupun korban maupunnya aktivitas sosial ekonomi. Kondisi tersebut disebabkan oleh kondisi geografis yang rentan, curah hujan tinggi, dan laju pembangunan yang tinggi yang menyebabkan berkurangnya daerah resapan udara. Namun, upaya adaptasi yang dilakukan belum efektif untuk mengurangi kerentanan, adaptasi yang dilakukan masih bersifat reaktif. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian dalam Mengidentifikasi faktor-faktor kerentanan wilayah yang berpengaruh terhadap banjir di Kecamatan Manggala, sebagai bahan dalam perumusan adaptasi yang lebih efektif kedepannya. Artikel ini merupakan bagian dari penelitian mengenai Arahan adaptasi kawasan rawan bencana banjir di Kecamatan Manggala Kota Makassar. Melalui teknik content analysis dapat diketahui faktor-faktor kerentanan yang berpengaruh terhadap bencana banjir di Kecamatan Manggala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kerentanan yang berpengaruh terhadap Banjir di Kecamatan Manggala adalah kondisi drainase yang tidak memadai, jarak dekat dengan bangunan sungai, lokasi yang ditentukan di daerah akumulasi akumulasi, penurunan daya infiltrasi tanah, konstruksi jalan yang rentan terhadap hasil, dan faktor potensi pendudukpendudukan.
KASUS KEEMPAT
Prinsip Interkoneksi Informasi dalam Penanganan Bencana Banjir
Peranan iptek dalam antisipasi dan penanganan bencana banjir sangatlah besar. Hasil iptek dan infrastruktur iptek dari berbagai lembaga riset maupun perguruan tinggi banyak yang siap untuk di-implementasikan dalam penanganan bencana banjir, contohnya hasil-hasil riset yang dapat dipergunakan untuk menggariskan kebijakan tentang penataan ruang, tata guna lahan, building codes, zonasi rawan bencana banjir, serta industri pangan dan obat-obat darurat, maupun peralatan sistem peringatan dini. Pemanfaatan satelit landsat, NOAA, SPOT, GMS dan IKONOS dalam mengantisipasi terjadinya anomali cuaca dan iklim dalam konteks Model Iklim Regional dan lokal, pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca, perlindungan infrastruktur pada saat bencana banjir maupun upaya rehabilitasi dan rekonstruksinya dan juga teknologi sistem peringatan dini dengan mengkonversikan data hujan pada debit banjir di sungai, teknologi pangan dan obat darurat merupakan sebagian kecil dari hasil iptek yang siap untuk diimplementasikan. Dalam konteks sediaan tersebut, kebijakan iptek yang telah dikeluarkan dalam bentuk prioritas Utama Nasional Riset dan Teknologi (Punas Ristek) sangat terkait dengan upaya penanggulangan bencana banjir tersebut. Punas Ristek tersebut meliputi antara lain riptek bidang meteorologi(cuaca), klimatologi (iklim), dan geologi. Pemanfaatan teknologi antariksa, kegiatan penginderaan jauh, merupakan salah satu ujung tombak pengembangan riptek yang memiliki dampak langsung pada upaya penang-ulangan bencana banjir. Secara lebih rinci penajaman dan penjabaran dari Punas Ristek tersebut tertuang dalam Agenda Riset Nasional (ARN). ARN ini memuat skenario topik dan anggaran prioritas untuk bidang-bidang yang sangat dibutuhkan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
KASUS KELIMA
Gempa Bumi
Bencana ini bersifat tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Gempabumi dapat menimbulkan dampak korban jiwa, luka, maupun kerusakan infrastruktur yang sangat signifikan. Kita harus belajar dari kejadian gempabumi yang terjadi di Yogyakarta (2006) dan Padang (2009). Mengidentifikasi potensi bahaya dan perencanaan yang berstandar aman dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi korban luka maupun kerusakan infrastruktur.
Apa yang dilakukan sebelum terjadi gempabumi
Kita tidak dapat mengetahui kapan gempa akan terjadi sehingga persiapan menjadi sangat penting untuk menyelamatan jiwa, mengurangi korban luka, maupun kerusakan infrasturktur. Ada 6 langkah untuk persiapan.
a) Cek potensi bahaya di rumah
• Lekatkan lemari secara aman pada dinding
• Tempatkan barang besar dan berat ada bagian bawah lemari
• Letakkan barang pecah belah pada bagian yang lebih rendah dan di bagian tertututp
• Gantungkan barang yang berat seperti pigura foto atau cermin, jauh dari tempat tidur, sofa, ataupun tempat di mana orang duduk
• Pastikan lampu langit-langit terpasang dengan kuat
• Perbaiki apabila terjadi kerusakan pada jaringan listrik atau gas.
• Amankan pemanas air dengan terpasang dengan baik pada dinding.
• Perbaiki keretakan pada langit-langit atau fondasi. Konsultasikan dengan ahli bangunan apabila membutuhkan informasi mengenai struktur bangunan yang kurang kuat.
• Tempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar dalam lemari tertutup dan letakkan paling bawah.
b) Identifikasi tempat aman di dalam dan luar rumah
• Di bawah perabot yang kuat, seperti meja dan kursi
• Merapat pada dinding, seperti berdiri pada siku bangunan
• Menjauh dari kaca atau cermin atau pun barang-barang berat yang berpotensi jatuh
• Di luar rumah, jauhi bangunan, pohon, dan jaringan telepon atau listrik, atau bangunan yang mungkin runtuh
c) Bekali pengetahuan diri sendiri dan anggota keluarga
• Memiliki daftar kontak yang dibutuhkan, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi, kabupaten, kota, TNI, Polisi, rumah sakit, PMI, atau pun dinas pemadam kebakaran.
• Bekali anak-anak bagaimana dan kapan harus menghubungi pihak-pihak di atas, dan mencari stasiun radio untuk mencari informasi darurat
• Bekali semua anggota keluarga bagaimana dan kapan harus mematikan gas, listrik, dan air.
d) Siapkan dukungan logistik darurat
• Lampu senter dan baterai cadangan
• Radio dengan baterai
• Perlengkapan PPPK dan panduannya
• Makanan siap saji dan minuman (perhatikan masa berlakunya)
• Obat-obatan khusus disesuaikan dengan kebutuhan pemakai
• Uang secukupnya
• Sepatu khusus
e) Merencanakan mekanisme komunikasi darurat
• Pada kasus apabila anggota keluarga terpisah pada saat bencana, rencanakan cara untuk mengumpulkan anggota keluarga setelah bencana.
• Menanyakan kepada saudara atau teman yang berlokasi di luar area tempat tinggal kita untuk bersedia sebagai penghubung keluarga .
KASUS BENCANA DARI JURNAL INTERNASIONAL
Preventing flood disasters with Cortana Intelligence Suite
On the morning of October 30, the stream gauge monitoring Onion Creek’s was operational and reporting that the stream level was rising to dangerous levels. First responders were monitoring the gauge so that they would be prepared for sending out support crews. However, around 5:00 a.m., the stream level reported by the gauge dropped to zero—which is not uncommon in the southern United States, where washes and stream levels can quickly drop to normal levels once the initial precipitation pattern passes. With the disaster appearing to have been averted, emergency responder turned their attention elsewhere. In actuality, the gauge had failed, the stream overran its banks, and more than 500 homes flooded and five people died.
Since the Onion Creek event, every year and often several times each year, Texas and nearby Oklahoma have experienced several floods, some of which have been more deadly than the 2013 event. In May 2015 a flood in this region claimed 48 lives, including two first responders, Deputy Jessica Hollis of the Austin Police Department and Captain Jason Farley of the Claremore, Oklahoma, Fire Department.
Researchers from the University of Texas at Austin (UT Austin) are collaborating with other researchers, federal agencies, commercial partners, and first responders to create the National Flood Interoperability Experiment (NFIE). The goals of the NFIE include standardizing data, demonstrating a scalable solution, and helping to close the gap between national flood forecasting and local emergency response. The objective is to create a system that interoperates between different publically available data sources to model floods, based on predictions.
Systems for each of the 13 water regions in the United States were developed, two of them at Microsoft Research by my visiting researcher, Marcello Somos (New England region), and intern Fernando Salas (Gulf region), both from the UT Austin. After Marcello and Fernando returned to Austin, they collaborated with other institutions to create a national flood map for the entire nation.
This interoperated data product was used by NOAA to run a summer institute at the National Water Center in Tuscaloosa, Alabama, with 38 top hydrology and meteorology graduate students from around the world.
My colleague Prashant Dhingra and I presented Microsoft Azure and the recently announced big data advanced analytics and intelligence platform, Cortana Intelligence Suite, to the students at the annual National Water Center Summer Institute. Several enterprising attendees created interesting analytics projects. Tim Petty, a PhD candidate at the University of Alaska, Fairbanks, wanted to address “the Onion Creek Problem,” and what we can do to estimate flood levels when stream gauges fail. And so project SHEM began.
Streamflow hydrology estimate using machine learning (SHEM) is a Cortana Intelligence Suite experiment that creates a predictive model that can act as a proxy streamflow data when a stream gauge fails. And due to the machine learning capabilities, it can even make estimates of stream levels where there is no actual stream gauge present.
“The uniqueness of SHEM is that it gives us highly accurate estimates of what a stream gauge would normally be sending out in place of a failed gauge when a flood is taking place.”
— Tim Petty, PhD candidate, University of Alaska, Fairbanks
SHEM differs from most existing models as it does not rely on distances between stream gauges and their location attributes, but is based solely on machine learning to process from historical patterns of discharge and interpret large volumes of complex hydrology data. This “training” prepares SHEM to predict streamflow information for a given location and time as it is impacted by multivariate attributes (for example, type of stream, type of reservoir, amount of precipitation, and surface and subsurface flow conditions).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Terdapat dua katagori penyebab banjir, yaitu akibat alami dan akibat aktivitas manusia. Dalam kaitannya terjadinya banjir, maka terdapat metode pengendalian banjir, yaitu metode struktural dan non-struktural. Metode struktural ada dua jenis yaitu Perbaikan dan pengaturan sistem sungai yang meliputi sistem jaringan sungai, normalisasi sungai, perlindungan tanggul, tanggul banjir, sudetan (short cut) dan floodway; dan Pembangunan pengendali banjir yang meliputi bendungan (dam), kolam retensi, pembuatan check dam (penangkap sedimen), bangunan pengurang kemiringan sungai, groundsill, retarding basin dan pembuatan polder. Sedangkan metode non struktural adalah pengelolaan DAS, yaitu pengaturan tata guna lahan, pengendalian erosi, peramalan banjir, partisipasi masyarakat, law enforcement, dsb. Pengelolan DAS berhubungan erat dengan peraturan, pelaksanaan dan pelatihan. Kegiatan penggunaan lahan dimaksudkan untuk menghemat dan menyimpan air dan konservasi tanah.
Saran
Diperlukan sikap kebersamaan multi-stakeholder dan keterlibatan masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bandung.
Asdak, 2004. Hidrologi dan Pengelolaan DaerahAliran Sungai. UGM Pres. Yogyakarta.
Irianto, 2006. Pengelolaan Sumber Daya Lahan dan Air, Agro Inovasi, Jakarta.
Jaji Abdurrosyid dan Kirno, 2002. Banjir Bandang, Penyebab dan Solusinya di Situbondo Jawa Timur. Jurnal Teknik Gelagar, Fakultas
Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Vol.13 No.03 Desember 2002, Surakarta.
Kodoatie, Robert J. dan Sugiyanto, 2002. Banjir, Beberapa penyebab dan metode pengendaliannya dalam perspektif
Lingkungan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Luthfi, 2007. Metode Inventaris Sumber Daya Lahan, Andi OffSet. Yogyakarta.
Mulyanto, 2007. Sungai, Fungsi dan Sifat-Sifatnya.
Graha Ilmu. Yogyakarta.
Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit Andi Offset.
Seta, AK. 1991. Konservasi Sumberdaya Tanah dan Air. Kalam Mulia, Jakarta.
Komentar
Posting Komentar